banner 728x90

Wabup Vasung Kenakan Paporong di HUT ke-62 Sulut, Tegaskan Makna Kehormatan dan Kepemimpinan

banner 728x90

MINAHASA. JENDELAANALISIS.COM — Ada pesan budaya yang kuat di balik penampilan Wakil Bupati Minahasa, Vanda Sarundajang, S.S., MAP, saat menghadiri rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-62 Provinsi Sulawesi Utara, Rabu (23/9/2026).

Wabup yang akrab disapa Vasung tersebut mengenakan Paporong, ikat kepala tradisional khas Minahasa.

Example 300x600

Bukan sekadar pelengkap busana adat, Paporong memiliki makna filosofis yang erat dengan harga diri, kehormatan, keteguhan serta tanggung jawab seorang pemimpin.

Vasung menjelaskan, penggunaan Paporong merupakan bagian dari upaya menjaga dan menghargai warisan budaya Minahasa yang sarat dengan nilai-nilai kehidupan dan kepemimpinan.

Menurutnya, Paporong menjadi simbol kesiapan pikiran, fokus dan kematangan mental dalam menghadapi berbagai tantangan. Nilai tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi seorang pemimpin untuk senantiasa mengutamakan kepentingan masyarakat.

“Paporong bukan hanya ikat kepala. Ada nilai dan pesan yang terkandung di dalamnya, yakni tentang kehormatan, keteguhan, kesiapan dan tanggung jawab seorang pemimpin,” jelas Vasung.

Ia menambahkan, filosofi Paporong juga mengingatkan bahwa kesejahteraan dan ketenteraman rakyat harus menjadi perhatian utama dalam menjalankan kepemimpinan.

Kepemimpinan, lanjutnya, harus dijalankan dengan adil, bijaksana dan tanpa tebang pilih, dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya serta kearifan lokal.

Momentum HUT ke-62 Provinsi Sulawesi Utara menjadi ruang untuk kembali memperkuat identitas daerah sekaligus meneguhkan semangat pembangunan Sulut.

Dengan mengusung semangat “Sulut MELAJU” — Maju, Sejahtera, Berkelanjutan — untuk Indonesia Berdaulat, Adil dan Makmur, peringatan. HUT ke-62 Sulawesi Utara tidak hanya menjadi perayaan usia provinsi, tetapi juga momentum memperkuat komitmen membangun daerah dengan tetap berpijak pada jati diri dan budaya lokal.

Bagi Vasung, mengenakan Paporong pada momentum tersebut menjadi simbol bahwa kemajuan daerah tidak harus meninggalkan akar budaya.

Sebaliknya, nilai-nilai luhur warisan leluhur dapat menjadi bagian penting dalam membangun kepemimpinan yang berkarakter dan berpihak pada kepentingan masyarakat. (ONK).

banner 325x300
banner 120x600